Kamis, 03 Januari 2013

THIS IS MY LOVE STORY (Zayn Malik Fan Fiction)•Chapter9•


 *Zayn.P.O.V
"Zayn, will you join me tonight to the eiffel tower?"

Eiffel tower? Ah damn, bahkan aku lupa kalau eiffel tower ada di Paris.

Ha-ha vas happening with you Zayn? Do you miss her? Do you miss Shara?

Aaargh, sedang apa kau disana?

Sebenarnya apa ini? Ada dua gadis yang mungkin sedang membutuhkanku.

Bukan, aku tidak bermaksud untuk menyakiti keduanya. Ah mengapa jalan ceritanya jadi seperti ini? Ini tidak seperti dugaanku.

Kukira Katy tidak akan kembali

Kukira aku akan bersama dengan gadis itu

Tapi nyatanya.. Ah sudahlah Zayn kau hanya harus mengikuti alur hidupmu.

Nikmatilah..

Ah. Aku pernah mendengar kata-kata ini.

Nikmatilah..


"Nikmatilah.. itu pilihanmu"

Ah gadis itu lagi.

Damn. Kenapa harus muncul dipikiranku?


-----

"MALAM INI AKU INGIN KITA KE EIFFEL TOWER YEAAA" Dylan berteriak-teriak di balkon yang menghadap gemerlapnya kota Paris

"BERISIK!!!" Tisa melemparkan kertas ke muka Dylan

"Eiffel tower.. hh" Aku hanya menggumamkannya

Pukul 7 malam kami bertiga pergi menuju eiffel tower menggunakan taksi

"Wah kita akan ke menara eiffel waaahh"

"Tutup mulutmu Dy" Aku yang tidak tahan akhirnya menegur

"Kau yang diam, aku sedang senang. Tolong jangan ganggu aku haha"

Aku menoleh pada Tisa yang disebelahku, Tisa juga menoleh ke arahku, dan kita sama-sama mengangkat bahu. Itu artinya "Yasudahlah"

Tiba di Eiffel tower.

Sungguh pemandangan yang luar biasa. Menara yang besar, tinggi, kokoh dan angkuh

Lampu malam sudah dinyalakan menambah gemerlap keindahan Eiffel tower

"Shar, Dy, katakan padaku bahwa aku tidak bermimpi" Tisa masih memegang dadanya sedari tadi, seperti tidak percaya

"Aawww!" Dylan akhirnya menyubit tangan Tisa

"THIS IS REAL, KITA BERADA DI DEPAN EIFFEL NOW!!!! TAKE A PICTURE HURRY UP"


-----
 *Zayn.P.O.V

Pergi bersama Katy dan the boys lainnya, tetapi mereka entah dimana. Alhasil, kini aku hanya berdua dengan Katy.

"Indah sekali bukan?" Katy menatap takjub Eiffel tower di depannya

"Mm-hm"

Pikiranku entah melayang kemana.

Seandainya aku disini bersamanya..

Seandainya aku disini bersama dengan gadis itu..

Shit. Apa yang kupikirkan? Mungkin ia sekarang sudah tidak memikirkanmu lagi Zayn.

Ingat! Siapa yang menghilang duluan? Siapa yang tidak menghubunginya? That's you Zayn. Kau tidak perlu memikirkannya lagi. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya kau melindungi Katy?

Ya, aku harus melindungi Katy. Lupakan gadis itu Zayn


-----


"Kau tidak ingin foto Shar?" Dylan bertanya sambil melihat-lihat foto hasil jepretanku di SLR

"Fotomu disini sedikit sekali" Dylan ikut melihat foto-foto

"Yaudahlah, sini ku ambilkan foto kalian lagi"

Lalu aku mengambil foto mereka lagi, dan setelah itu aku ingin memotret pemandangan disekitar sini.

Dan saat itulah aku melihatnya, tertangkap oleh lensa kameraku.


Dia ada disana.

Zayn berada disana.


Aku mengerutkan kening saat melihat ada gadis disampingnya

Siapa dia?

Lalu aku melihat gadis itu mencium pipi Zayn. Mereka terlihat senang. Mereka bergandengan tangan. Mereka dekat. Mereka erat.

Mereka...


YaTuhan, apakah ini takdirmu untukku?


Aku menghampiri Dylan dan Tisa

"Aku ingin pulang"

Mereka berdua terlihat bingung, aku menyerahkan SLR kepada mereka dan langsung menyetop taksi yang lewat.

Ya. Aku memang harus pulang.


Aku turun dari taksi, aku terburu-buru memasuki lobby hotel. Dan tidak sengaja menabrak orang.

"Maaf" Aku hanya meminta maaf dan ingin segera pergi dari sini

Ketika aku akan berjalan. Orang itu memanggilku

"Shara?" Aku merasa familiar dengan suara itu, lalu aku menoleh dan orang itu adalah Liam.

"Shara?" Liam memastikanku lagi. Karena aku daritadi tidak menjawab


Dan tiba-tiba saja aku sudah jatuh di pelukannya.


Aku menangis..
---
*Liam.P.O.V.
Aku sedang mengunjungi salah satu mantan teman semasa SMA ku dulu, ia bilang ia di Paris sekarang, jadi aku memutuskan untuk bertemu dengannya dan mengunjungi hotel yang ia tempati. Dan saat aku masuk lobby aku menabrak seseorang. Shara. Ia terlihat murung. Dan tidak lama kemudian tiba-tiba saja ia memelukku.


She's cried

Aku tidak tahu mengapa ia menangis, lalu aku tidak jadi mengunjungi temanku dulu. "Besok mungkin bisa" itu pikirku

Alhasil, aku sekarang berada disebuah taman di pusat kota Paris. Shara masih menangis. Aku mengelus rambut nya perlahan dan merangkulnya

"Tidak apa-apa, aku disini" aku mengucapkannya seperti bisikan diatas kepalanya, lalu aku mencium ujung kepalanya

Sampai setengah jam Shara menangis. Akhirnya ia mulai untuk berbicara, walaupun tersendat dan ceritanya agak tidak jelas, tapi aku mengerti. Ia sudah melihat Zayn dan Katy.

"A-apakah kau sudah tahu seb-belum ini?"

"Yeah"

"Ke-kenapa kau tidak bilang padaku?"

"Aku tidak mau membuatmu sakit, aku ingin kau selalu tersenyum"

"Seharusnya kau bilang" dia seperti menggumam

"Yah, memang aku yang salah. Seharusnya aku bilang"

Lalu aku menceritakan semua tentang Zayn dan Katy, dari awal sampai akhir. Tidak ada yang ku potong. Semua lengkap. Nyaris sempurna.


"Hmmh" Shara menghela napas cukup panjang

"I wanna go back"

"Kuantar"


-----


Aku membuka pintu kamar hotelku, di dalam sudah ada Dylan dan Tisa

"Kau habis kemana? Kenapa ponselmu tidak aktif?" Tisa melontarkan pertanyaan bertubi-tubi padaku

Aku tersenyum

"Maaf" hanya itu yang bisa ku ucapkan

"Hey, ada apa dengan wajahmu? Apa kau baru saja menangis?"

"Apa terlihat jelas?" Aku pergi ke depan cermin

"Ah ya jelas sekali"

Dylan dan Tisa kemudian mendekatiku dan memegang pundakku

"Kami tahu kau sedang sedih now, tell us what you're problem?"

Kemudian cerita itu mengalir begitu saja dari bibirku.


"Umm waktu itu kami juga sudah melihat zayn dengan katy waktu itu"

"Tapi kami takut untuk memberi tahumu"

"Tidak apa-apa, sekarang semuanya sudah jelas. Mungkin dengan cara inilah aku melupakan Zayn"


-----
 *Zayn.P.O.V.

Aku baru sampai di hotel tempat ku menginap. Tapi baru sampai di parkiran tiba-tiba saja Liam menghampiriku.


"Kau sudah puas?" Dia berbicara dengan santai, tidak ada emosi disana tapi terkesan sinis

Aku hanya mengernyitkan keningku tanda tidak mengerti

"Shara sudah tahu semuanya" suara Liam berubah menjadi semacam desahan

"She's cried"

"Aku ingin mengetahui satu hal darimu"

"What?"

"Do you love her?"


Do you love her?Ya, pertanyaan Liam benar. Do-you-love-her

I don't know what I feel, yang jelas aku merasa senang jika berada di dekatnya. Ya, aku senang.

Jadi, apa yang kurasakan?Aku selalu merindukannyaAku selalu memikirkannya

Jadi, apa yang kurasakan?


-----


Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar