*Zayn.P.O.V.
Tujuanku kali ini adalah Katy. Dia harus tau, dan aku juga ingin lebih meyakinkan diriku bahwa aku mencintai Shara, bukan Katy.
Aku sampai dirumah Katy, aku mengetuk pintu rumahnya.
1 kali..
2 kali..
3 kali..
Tak ada respon.
Lalu aku melihat ke jendela samping rumahnya. Aku mengintip dari sana untuk memastikan apakah benar tidak ada orang di dalam sana?
Baru beberapa detik kemudian ada sekelebat bayangan 2 manusia. Ah itu Katy, dia bersama dengan siapa?
1 menit aku melihat mereka berdua, mereka tertawa-tawa dan terlihat senang, aku mengernyitkan kening. Seharusnya aku marah, tapi aku tidak
And I saw them kissing.
Great, sekarang aku tahu perasaanku yang sebenarnya. Aku bermaksud ingin pergi ketika aku tidak sengaja menyenggol pot bunga dan pecah
Lalu mereka berdua Katy dan cowok entah siapa namanya menoleh dan mereka terlihat kaget
Aku berjalan pulang
"Zayn!" Katy memanggilku
Aku membalikkan badan
"Did you see?"
Aku menaikkan satu alisku "Ya I see"
"Maafkan aku, Liam sudah menceritakan semuanya padaku"
-----
*Liam.P.O.V
Aku tidak tahan melihatnya menangis seperti itu. Aku tidak tega.
Dan pada saat itu Katy sedang berada diluar hotel. Aku yang baru menghampiri Zayn tadi akhirnya memutuskan menghampirinya juga. Ia harus tau cerita ini
"Katy" aku pun memanggilnya
"Yes liam?"
"Aku ingin memberi tahumu sesuatu"
"What's that?"
"Zayn sudah mencintai orang lain"
"Setelah kau dengannya lost contact 2 bulan, Zayn sudah mengenal seseorang. Gadis Indonesia."
"Mereka dipertemukan saat kami menggelar konser disana"
"Mereka sudah dekat. Dan aku tahu mereka saling mencintai, ya walaupun Zayn belum bilang sejujurnya padaku"
"Kau tahu? Setelah kau datang kembali. Zayn jadi bingung, dia ragu untuk mengutarakan bahwa siapa yang ia cintai"
"Akhirnya dia memutuskan untuk bersamamu dan tidak menghubungi Shara. Gadis Indonesia itu"
"Jadi.." Katy terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya
"Kurasa dia ingin melindungimu, ia takut kalau dia tidak bersamamu, kau akan menyentuh barang-barang kotor itu lagi"
"Makanya ia memutuskan juga untuk tidak menghubungi Shara lagi, mungkin dengan cara itu Zayn pikir Shara akan melupakannya"
"Tapi ia salah, Shara sudah terlanjur sangat mencintai Zayn"
"Tadi aku baru bertemu dengan Shara, ia juga berada disini. Ia menangis setelah melihat kau berdua dengannya di Eiffel tower tadi, aku tidak tega. Sangat tidak tega"
Karna aku juga mencintai Shara
"So, Katy maukah kau membuat mereka bersatu kembali?"
Aku yakin katy akan menangis dan tidak menyetujui pemintaanku. Tapi aku salah, ia malah tersenyum
"Of course I want, Zayn is my best friend"
"Terimakasih, kau baik sekali Katy"
-----
*Zayn.P.O.V.
"Maafkan aku Zayn karna telah membuat mu jauh dari Shara, seharusnya aku tidak kembali"
"Never mind Katy"
"Laki-laki tadi namanya Robert, dia teman dekat ku dulu dan sekarang aku mencoba melupakanmu hehe, kau mengerti kan maksudku?"
"Yeah"
"Jadi kita best friend?" Katy menyodorkan kelingkingnya
"Ya, best friend" Aku mengaitkan kelingking ku dengan kelingkingnya
"Best friend.."
Secepatnya aku harus ke Indonesia..
Aku harus menemuinya..
-----
"Jadi lusa kau akan tampil di hotel Safeway?" Tisa terlihat tidak percaya
"Ya begitulah"
"Oh aku tidak percaya! Kau akan tampil memainkan piano mu di depan orang-orang penting Shara"
"Di hotel sekelas itu pula hmm"
"Ku harap aku tidak memalukan disana"
"Pasti tidak, permainan pianomu sangat bagus" Dylan memujiku
"Ahahaha kau berlebihan Dy"
"Fakta berkata seperti itu, bener ga Tis?"
"Yap"
Sudah sebulan aku mempersiapkan ini. Sebelum aku pergi ke Paris.
Aku diundang ke sebuah acara yang di adakan oleh pihak Hotel Safeway, banyak nanti para orang-orang penting datang dan juga sederet artis ternama yang datang.
Uh. Pasti sangat menegangkan. Acara nya lusa saja aku sudah nervous dari sekarang, bagaimana nanti aku berada di stage?
-----
*Zayn.P.O.V
"Aku akan ke Indonesia" Ini kalimat yang pertama ku ucapkan setelah aku menemui Katy
Hening sesaat
"Jadi kau sudah memutuskan Zayn?" Niall yang pertama berbicara
"Ya"
"Kalau begitu tunggu apalagi Zayn?! Cepat ke airport urusan tiket kami yang mengurusnya!" Louis berkata lantang
"Bolehkan kami ikut?" Harry bertanya
"Sure" Aku melesat ke kamar dan menyiapkan baju yang akan ku bawa secepat mungkin
Ketika tiba-tiba saja Liam datang dan menepuk pundakku
"Congrats brada, akhirnya kau menentukan pilihanmu"
"Thanks for everything Liam, many thanks to you"
"Urwel, kita ini saudara, ingat? Jadi harus saling membantu"
"Thankyou" Kami berpelukan layaknya seorang sahabat yang sudah lama tak bertemu
-----
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar