Hari ini adalah hari terakhir aku di Paris, rencananya aku ingin membeli oleh-oleh. Dan aku juga sudah janji pada Liam akan menemuinya, karna ia nanti sore akan terbang ke UK bersama the boys lainnya
Zayn? Sudahlah tak usah dipikirkan lagi, ia mungkin sudah bahagia dengan Katy, aku tidak perlu repot-repot memikirkannya lagi. Aku harus melihat ke depan. Lupakan semua yang ada dibelakang
Tisa masuk ke beberapa toko di sebuah mall centre, dan Dylan sudah dari tadi melesat ke tempat alat musik, ia sekarang sedang terobsesi untuk belajar gitar
Aku menemui Liam disalah satu cafe disana. Ia sudah menungguku rupanya
"Hi"
"Hey"
Aku ngobrol bersama dengannya sekitar 1 jam, lalu ia pamit untuk pulang. Karna 1 jam lagi ia akan ke airport
"Ok take care ya, I will miss you Liam" Aku memeluknya
"I always miss you Shara, kau jangan bersedih lagi ya"
Liam pun pergi
Dan aku keluar dari cafe dan ingin menghampiri Dylan dan Tisa
Kalau kau bertanya tentang hubunganku dengan Liam saat ini jawabannya adalah kami memutuskan untuk bersahabat, tidak lebih.
Aku menemuinya sehari kemudian setelah kejadian aku menangis dipelukannya. Dan pada saat itu Liam mengatakannya lagi bahwa dia mencintaiku, tapi aku bilang aku hanya ingin bersahabat dengannya
Dan Liam adalah orang yang paling menerima dan bijak yang pernah ku kenal, Liam sangat dewasa.
Jadi ia menerima keputusanku dan jadilah kita bersahabat.
Malam terakhir di Paris, kami bertiga menghabiskan waktu di sebuah restaurant cepat saji yang berada di lantai paling atas sebuah gedung, dari sini kami dapat melihat suasana Paris di waktu malam. Dan dari sini kami bertiga akan melihat langsung pesta kembang api
"Jadi, kau tidak mencintainya?" 'Nya' yang dimaksud Dylan adalah Liam
"Aku hanya menganggapnya sebagai sahabatku"
"Kurasa ia benar-benar mencintaimu"
"Kurasa juga begitu, ingatkah saat Liam datang tiba-tiba ke Indonesia?"
"Ya, I know. Yang jelas aku menyayanginya sebagai sahabat sekaligus tempat curhat"
"Umm okay, eh lihat! Pesta kembang apinya akan di mulai"
Kembang api yang indah, walaupun aku berada di atas gedung tapi aku melihat bahwa orang-orang di bawah sana juga ikut menyaksikan. Orang-orang dibawah terlihat seperti semut kecil
"Whoaah seandainya saja Nicole ada disini, pasti akan indah sekali"
"Shara, tidak lama lagi kita pasti akan dapat pacar! Pasti! Tisa, remember that" Dylan berkata seperti masih sambil melihat kembang api yang masih mengangkasa di langit Paris yang gelap
"Okay okay"
Seandainya kau disini............
Zayn...............
Ah dia lagi, mengapa harus dia?
Lupakan Shara, lupakan. Kau harus move on.
-----
*Zayn.P.O.V.
"Zayn, tell me what you're feeling?" Tiba-tiba saja Niall bertanya padaku Liam, Harry dan Louis sedang keluar, jadi disini hanya ada aku dan Niall.
"I don't know, and I don't want to know"
"Why?"
"Aku tidak tahu harus berbuat apa"
"Mending kau tanya pada hatimu yang paling dalam, bagaimana sebenarnya perasaanmu?"
Kulemparkan bantal pada muka Niall "Kau tidak pantas untuk sok bijak hahaha"
"Aku hanya memberi saran! Huh" Niall keluar kamar, entahlah ia mau kemana
Tapi diam-diam aku mengilhami kalimat Niall barusan.
"Hey hatiku yang paling dalam, bagaimana perasaanmu?"
Benarkah aku masih mencintai Katy? Tapi kenapa ketika aku berada di dekatnya biasa saja? Tak seindah dulu
Tapi jika bersama Shara aku merasa senang dan nyaman. Ia selalu terlintas dipikiranku.
Ah.
-----
*Stiil Zayn.P.O.V.
"Niall, mungkin kemarin aku bilang kau tidak pantas untuk sok bijak"
"Tapi kali ini tolong aku" Aku menghampiri nya
"Kau ingin aku berbuat apa?"
"Tidak berbuat apa-apa, tapi katakan padaku sejujurnya, sebenarnya dari yang kau lihat bagaimana perasaanku?"
"Perasaanmu?"
"Mm-hm"
"Kau mencintainya Zayn, kau mencintai Shara"
"Apa iya?"
"Ya, dan tak bisa di pungkiri lagi"
"Ok, thankyouu" Lalu aku memeluk Niall dan mencium pipi Niall
"HEY!!!" Sebelum Niall marah-marah tidak jelas, aku sudah keburu pergi.
Ahaha. Biarkan saja.
----------
Bersambung to Chapter 10/2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar